profil

Selasa, 08 Maret 2011

Ditemukan, Planet Mirip Bumi Tapi Super Panas

Planet itu tidak layak huni, karena terlalu panas, bersuhu sekitar 1482 derajat celcius

Selasa, 11 Januari 2011, 09:39 WIB

VIVAnews - Teleskop luar angkasa AS menemukan sebuah planet yang terletak di luar tata surya. Planet itu tampak berbatu-batu, mirip dengan Bumi.

Demikian ungkap Badan Antariksa AS (NASA), seperti yang dikutip kantor berita Associated Press. Planet itu dinamakan Kepler 10-b, mengikuti nama teleskop NASA yang memantaunya.

Namun, planet itu tidak layak huni, karena terlalu panas. Menurut NASA, suhu di salah satu sisi planet itu sebesar 2.700 derajat Fahrenheit, atau sekitar 1.482 derajat Celcius.

Astronom NASA, Natalie Batalha, mengatakan bahwa planet itu berukuran 1,4 kali lebih besar dan memiliki massa 4,5 lebih padat dari Bumi. Kepler 10-b mengorbit di suatu bintang mirip matahari dan berjarak 560 tahun cahaya, atau sekitar 9,4 triliun kilometer.

Black Hole Terbesar di Alam Semesta Ditemukan

Saking besarnya, lubang tersebut konon mampu menelan Bumi beserta seluruh isi tata surya.

Senin, 17 Januari 2011, 00:09 WIB

VIVAnews - Black hole atau lubang hitam terbesar di alam semesta telah ditemukan dengan berat 6,8 miliar kali massa Matahari. Saking besarnya, lubang tersebut konon mampu menelan Bumi beserta seluruh isi tata surya.

Dengan ukuran cakrawala sebesar itu, diperkirakan seluruh isi tata surya tidak bisa melarikan diri dari tepi ini, termasuk cahaya sekali pun. Sebagai perbandingan, besarnya bisa mencapai empat kali lipat orbit planet Neptunus.

Lubang hitam itu terletak di M87. Sejauh ini, ia adalah galaksi terbesar yang terdekat dengan galaksi Bima Sakti. Jaraknya diperkirakan kurang lebih 50 juta tahun cahaya dari Bumi dan masih belum diketahui kapan 'monster' ini lahir.

Menilik ukurannya yang sangat raksasa, sejumlah ilmuwan menganggap lubang itu tercipta karena ratusan lubang hitam yang bergabung menjadi satu di masa lalu.

"Ia bisa menelan sistem tata surya kita," kata Karl Gebhardt, seorang ilmuwan asal University of Texas, Austin-AS, seperti dikutip dari All Voices, Minggu 16 Januari 2011.

Sebuah teleskop khusus di Hawaii digunakan oleh para ilmuwan untuk mengamati obyek yang diperkirakan memiliki berat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dengan teleskop tersebut, Gebhardt dan timnya mampu mengamati obyek luar angkasa hingga kejauhan 500 km.

"Dan, lubang hitam raksasa ini adalah lubang hitam termasif dan terakurat yang pernah kami temukan," kata Astronom George Djorgovski dari California Institute of Technology di Pasadena.

Peneliti NASA Temukan Bukti Alien di Meteor

"Hal yang menarik adalah, fosil-fosil itu bentuknya mudah dikenali," kata Hoover.

Minggu, 6 Maret 2011, 19:16 WIB

VIVAnews - Ilmuwan NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat), Richard B Hoover, menunjukkan bukti adanya makhluk hidup dalam meteorit. Peneliti dari Pusat Penerbangan Marshall NASA itu mengklaim bahwa ia dan timnya menemukan bukti makhluk hidup berupa fosil bakteri langka, yang hidup di dalam bongkahan batu dari luar angkasa itu.

Seperti dilansir CBSNews.com, Minggu 6 Maret 2011, Hoover menuliskan bukti itu dalam jurnal terbaru, Journal of Cosmogoly edisi Maret 2011. Hoover berpendapat bahwa hasil uji pada koleksi sembilan meteorit yang dinamakan CI1 Meteorit Carbonaceous, itu menunjukkan bahwa ada bakteri yang berasal dari daerah asal meteor.

"Filamen kompleks yang ditemukan di dalam meteorit CI1 Carbonaceous menunjukkan ada mikrofosil bakteri 'pribumi' dari cyanobacteria," kata Hoover dalam tulisannya.

Cyanobacteria merupakan bakteri biru-hijau yang masuk golongan bakteri autotrof fotosintetik. Dia dapat menghasilkan makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari secara kimia.

Menurut Hoover, materi yang ditemukan yang dideteksi sebagai cyanobacteria itu kemungkinan besar menunjukkan adanya kehidupan mahkluk hidup di luar bumi. Dan Hoover tidak menampik bahwa itu adalah kesimpulan akhir dari penelitiannya.

Sontak saja kesimpulan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan ilmuwan. Tetapi, kesimpulan Hoover ini memperkuat bukti adanya kehidupan di luar bumi. Setelah sebelumnya sejumlah ahli menegaskan bahwa ada unsur air dalam meteorit.

Sementara, News.com.au menulis, penelitian yang dilakukan Hoover ini hanya melalui proses yang sangat sederhana. Batu meteor itu disimpan dalam tempat yang steril sebelum diuji. Pengujian dilakukan dengan alat-alat standar peneliti: mikroskop elektron dan emisi elektron mikroskop.

Hasilnya, Hoover menemukan mikroogranisme yang jenisnya tidak jauh berbeda dengan salah satu jenis bakteri biasa yang ada di bumi. "Hal yang menarik adalah, fosil-fosil itu bentuknya mudah dikenali dan jenisnya sangat dekat dengan yang ada di bumi," kata Hoover.

CFC Mulai Ditinggalkan, Bumi Terselamatkan

Sebagian besar lapisan ozon di bumi akan kembali normal pada pertengahan abad.

Sabtu, 16 Oktober 2010, 19:25 WIB

VIVAnews - Apakah Anda ingat CFC atau chlorofluorocarbon? Ya, bahan kimia yang merupakan gabungan dari tiga senyawa organik, yaitu karbon, khlor, floor. Ia sering dipakai untuk kaleng aerosol, nampan hamburger yang menyerupai aluminium, kulkas, dan barang-barang sejenis yang ternyata dapat merusak kehidupan bumi.

Benar, CFC mulai ditinggalkan beberapa tahun belakangan ini karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan vital lapisan ozon dengan menyerang lapisan statosfer.

Jika Anda mencari benda-benda berbahan dasar CFC dewasa ini agak sulit. Ia sudah lama berlalu dari kehidupan manusia. Bahan tersebut dilarang pakai di sebagian besar negara industri sejak munculnya perjanjian internasional pada pertengahan 1990.
Kebijakan tersebut kemudian diikuti oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

CFC adalah bahan kimia yang sulit terurai dan berumur panjang. Sama halnya dengan plastik, mereka tetap berada di sekitar kita dan terus memperburuk atmosfer. Pada kebanyakan produk, CFC telah digantikan posisinya oleh HCFC, zat serupa CFC yang juga terbuat dari air. Dikenal pula dengan sebutan freon.

Tetapi, kabar baiknya, keadaan itu hari ini jauh lebih baik. Lembaga ilmiah internasional yang beranggotakan sekitar 300 ilmuwan senior, Scientific Assessment of Ozone Depletion, melaporkan untuk pertama kalinya pada musim gugur tahun ini kandungan CFC12 di lapisan ozon menurun.

Laporan tersebut menegaskan, sebagian besar lapisan ozon yang ada di bumi akan kembali ke normal pada pertengahan abad, sekitar tahun 2050. Kecuali, lubang yang terbuka di Antartika. Bukan tak mungkin, tapi sulit untuk kembali ke normal karena memakan waktu yang lebih lama.

Berita baik ini tak cuma baik bagi kesehatan manusia, tetapi juga perlawanan pada isu pemanasan global. Seperti angin surga di tengah-tengah buntunya negosiasi iklim internasional.

Ozon, zat berwarna kebiru-biruan dan terbentuk dari oksigen, memiliki pertahanan yang rapuh. Anehnya, meski tidak kuat ia bekerja sungguh efektif. Tersebar ke seluruh bumi 21 mil di bawah laposan statosfer, ozon melindungi seluruh makhluk hidup di bumi dari radiasi ultraviolet berbahaya yang dikirim matahari.

Prediksi Pemanasan Global Terbukti

Bencana alam di Pakistan, China, dan Rusia adalah tiga bukti pertama.

Jum'at, 13 Agustus 2010, 06:46 WIB

VIVAnews - Bencana alam yang melanda Pakistan, China, Rusia dan melelehnya es di Arktik sesuai dengan prediksi the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) beberapa tahun lalu. Pakistan dilanda hujan terus-menerus sehingga banjir, sementara Rusia mengalami cuaca paling panas dalam 1.000 tahun.

Kejadian-kejadian sepanjang Juli sampai Agustus 2010 ini telah diprediksi ilmuwan cuaca, meski mereka malu-malu menyebutnya, sebagai bukti pemanasan global telah berlangsung. Mereka sekarang sedang berupaya mencari cara memprediksi cuaca ekstrem ini.

Agustus ini, mereka mulai menggelar rapat yang disponsori Perserikatan Bangsa-bangsa, Amerika Serikat dan Inggris. "Tak ada waktu terbuang lagi karena rakyat harus disiapkan menghadapi pemanasan global," kata Peter Scott, klimatolog pemerintah Inggris.

IPPC pada 2007 telah memprediksi peningkatan temperatur akan menghasilkan gelombang panas dan hujan yang intens. Dalam laporan 2007 yang menghasilkan penghargaan Nobel, IPPC melaporkan "telah diamati" sebuah peningkatan gelombang panas sejak 1950.

Sementara ilmuwan the Goddard Institute of Space Studies NASA, Gavin Schmidt, di New York, menyatakan pendekatan yang tepat adalah "lebih banyak ekstrem panas dan sedikit ekstrem dingin."

Berikut perbandingan fakta dengan prediksi:

Rusia

Untuk pertama kalinya suhu Moskow mencapai 37,8 derajat Celcius. Panas membuat kebakaran hutan dan mengeringkan lahan gambut, sehingga menyelimuti Rusia dengan kabut asap beracun. Kematian meningkat menjadi 700 jiwa per hari.

Tahun 2007, laporan IPCC memprediksi bencana kekeringan di Rusia meningkat dua kali dan melihat kemungkinan kebakaran selama bertahun-tahun. Rusia juga disebut akan kehilangan hasil pertanian.

Pakistan

Hujan lebat terus-menerus selama 36 jam membuat sungai Indus di Pakistan meluap. Diperkirakan 14 juta rakyat Pakistan kena dampak banjir. Pemerintah Pakistan menyebutnya bencana terburuk dalam sejarah bangsa itu.

Tahun 2007, laporan IPPC menyatakan hujan lebih lebat selama 40 tahun di utara Pakistan dan memprediksi banjir dahsyat akan melanda bagian selatan Asia ini.

China

Negara berpopulasi terbesar di dunia ini mengalami banjir terburuk sedekade, terutama di provinsi di barat laut, Gansu.
Banjir dan longsor menewaskan 1.117 orang dan membuat 600 orang hilang.

Tahun 2007, laporan IPPC menyatakan hujan meningkat di barat laut China 33 persen dibanding 1961. Banjir di seluruh negeri meningkat tujuh kali dibanding 1950. Dan banjir akan sering terjadi di abad ini.

Arktik

Sebuah bongkahan es seluas 260 kilometer persegi telah mengapung di barat laut Greenland. Bongkahan es ini adalah yang terbesar tercatat dalam sejarah memisahkan diri dari Arktik.

Es yang mencair ini menyebabkan kenaikan permukaan lau di seluruh dunia, sebagai akibat dari ekspansi cuaca panas ke kawasan kutub. Kenaikan muka laut adalah 3,4 milimeter per dekade, dua kali lipat angka di abad 20

Beruang Kutub Punah Abad Ini?

Mereka akan menjadi sejarah ketika kenaikan suhu di Bumi lebih dari 1,25 derajat Celcius.

Jum'at, 17 Desember 2010, 11:08 WIB

VIVAnews - Beruang kutub termasuk dalam daftar spesies hewan yang terancam punah beberapa dekade ke depan. Namun, mereka dapat terhindar dari kepunahan apabila emisi gas rumah kaca dapat dikurangi, sebuah studi melaporkan.

Para ilmuwan mengatakan, masih ada harapan bagi ikon predator benua Arktika itu, meski sempat diperkirakan tiga tahun lalu spesies tersebut akan punah akibat pemanasan global.

Sekitar tahun 2007, es di Kutub Utara diproyeksi akan tergerus pada pertengahan abad ini. Akibatnya, populasi beruang kutub akan berkurang hingga dua pertiga dari total.

Beberapa dekade setelah itu, suhu terus naik dan terlalu sulit untuk mencegah cairnya es menjadi laut, dan beruang kutub akan hilang sama sekali. Temuan ini menyebabkan beruang kutub masuk ke dalam daftar spesies yang terancam di tahun 2008.

Namun, penelitian baru yang dipaparkan di jurnal Nature menentang prediksi tentang titik kritis tersebut karena mencairnya es ke laut sesungguhnya bisa dibendung. Dalam simulasi komputer, yang menghubungkan faktor hubungan antara beruang kutub dan lingkungannya, menunjukkan masih ada waktu untuk mencegah bencana ekologis di Arktika.

Penurunan emisi gas rumah kaca yang signifikan, yang mana dapat mempertahankan kenaikan suhu tidak lebih dari 1,25 derajat Celcius, di akhir abad ini masih memungkinkan beruang kutub untuk bertahan.

"Penelitian kami sangat menjanjikan dan penuh harapan, tetapi juga menjadi insentif bagi manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Dr Cecilia Bitz, salah satu ilmuwan dari University of Washington, yang dikutip VIVAnews dari Daily Mail, Jumat 17 Desember 2010.

Penelitian ini sekaligus meralat hasil penelitian sebelumnya yang juga dipimpin oleh Dr Bitz. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa peningkatan suhu tak terkendali menyebabkan hilangnya wilayah es di Kutub Utara dalam waktu kurang dari satu dekade.

2010, Tahun Mematikan, Aneh, dan Ekstrim

Untuk kategori aneh, Indonesia jadi contoh. Dalam 24 jam, 3 bencana dahsyat terjadi.

Selasa, 21 Desember 2010, 05:54 WIB

VIVAnews -- Gempa bumi, gelombang panas, banjir, letusan gunung berapi, angin topan, badai salju, longsor, dan kekeringan mendominasi pemberitaan media sepanjang tahun 2010.

Tercatat lebih dari seperempat juta orang di dunia meninggal atau lebih banyak dibandingkan korban tewas akibat serangan terorisme sepanjang 40 tahun terakhir.

"Ini terlihat seperti bencana terus-menerus terjadi, seperti ombak yang tak putus," kata Kepala U.S. Federal Emergency Management Agency Craig Fugate seperti dikutip The Huffington Post, Senin, 20 Desember 2010. "Siklus kejadian 100 tahun sekali kehilangan maknanya pada tahun ini."

Manusia ikut andil membuat bencana makin mematikan. Konstruksi yang rapuh membuat makin banyak nyawa berpotensi melayang saat terjadi gempa bumi, angin topan, atau diterjang arus sungai.

Contoh sempurna adalah gempa bumi yang mengguncang Haiti pada Januari 2010. Lebih dari 220 ribu orang tewas akibat konstruksi yang buruk.

Disisi lain, gempa bumi terjadi di Chile Februari 2010, kekuatannya 500 kali lebih kuat dari Haiti. Namun korbannya selisih tajam, kurang dari 1.000 orang. Ini karena konstruksi di Chile lebih baik, mereka juga punya sistem peringatan dini yang baik.

Manusia berkontribusi dalam bencana yang terkait perubahan iklim, seperti gelombang panas dan banjir. Saat cuaca panas mematikan menyerang Rusia, banjir terjadi di Pakistan yang merendam wilayah seluas 62.000 mil persegi.

Gelombang panas dan badai menewaskan hampir 17.000 orang -- lebih banyak dari semua korban kecelakaan pesawat di seluruh dunia dalam 15 tahun digabungkan.

Padahal para ahli memperkirakan, cuaca panas yang menyerang Rusia hingga 111 derajat Fahreinheit biasanya terjadi setiap 100 ribu tahun sekali jika tidak terjadi pemanasan global. Data awal juga menunjukan, sebanyak 18 negara di dunia memecahkan rekor cuaca terpanasnya sepanjang masa.

"Bukankan ini mirip tindakan bunuh diri? Kita membangun rumah yang bisa membunuh kita sendiri dalam gempa bumi? Kita juga membangun rumah di zona banjir yang bisa menenggelamkan diri sendiri," kata Roger Bilham, profesor ilmu geologi di University of Colorado.

Melihat kondisi tersebut, sejumlah ahli yang mempelajari bencana dan kehidupan sepakat bahwa bencana yang terjadi pada tahun ini bukan hanya sekadar tahun yang buruk. Namun juga ekstrim. Ini alasannya:

1. Seberapa mematikan?

Ketika terjadi gempa bumi Haiti, cuaca panas di Rusia, dan banjir di Pakistan dianggap sebagai bencana mematikan, di belahan bumi lain juga terjadi bencana serupa, di Chile, Turki, China, dan Indonesia -- yang berada pada rangkaian seismik paling aktif sepanjang dekade.

Sepanjang pertengahan Desember telah terjadi sebanyak 20 kali gempa bumi dengan kekuatan magnitude lebih dari 7 skala richter. Bandingkan dengan kondisi normal yang 16 kali.

Banjir sepanjang tahun 2010 sendiri sudah menewaskan lebih dari 6.300 orang di 59 negara hingga September 2010.

Swiss Re mencatat sampai November 2010, jumlah korban tewas akibat bencana alam pada tahun 2010 mencapai 260 ribu orang atau lebih besar dibandingkan posisi sama tahun 2009 sebanyak 15 ribu orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah merilis korban meninggal karena bencana tercatat sebanyak 250 ribu orang hingga September 2010.

Sebagai perbandingan, laporan oleh US State Department dan Lawrence Livermore National Laboratory mencatat korban kematian akibat kegiatan terorisme antara tahun 1968-2009 tercatat kurang dari 115 ribu orang.

2. Seberapa ekstrim?

World Meteorological Organization memperkirakan tahun ini bakal berakhir sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah rekor dunia, atau paling tidak masuk dalam tiga besar.

National Climatic Data Center menyebutkan bahwa cuaca rata-rata dunia sampai akhir Oktober mencapai 58,53 derajat atau melewati rekor tahun 2005.

Wilayah Los Angeles Amerika Serikat membuat rekor sebagai hari terpanas dalam sejarah pada 27 September 2010 dengan suhu 113 derajat Fahreinhet. Pada Mei 2010, sebanyak 129 lokasi di Pakistan tercatat membuat rekor baru dan mungkin menjadi iklim terpanas untuk wilayah yang dihuni manusia.

Kawasan utara Australia tercatat memecahkan rekor hari paling basah pada Mei hingga Oktober. Sementara di wilayah selatan Australia mengalami rekor iklim kering. Di bagian lain di Amazon, tercatat rekor tingkat air paling rendah sepanjang sejarah

3. Seberapa mahal?

Swiss Re memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana alam sepanjang tahun 2010 mencapai US$222 miliar atau lebih besar dari angka perekonomian Hongkong.

"Kerugian itu bukan hanya tidak gunung berapian sebuah rekor." Apalagi, kerugian karena bencana biasanya menyerang kawasan miskin tanpa perindungan asuransi.

4. Seberapa aneh?

Letusan gunung berapa di Islandia telah mematikan jalur penerbangan di Eropa selama beberapa hari sekaligus mengganggu jadwal keberangkatan lebih dari 7 juta orang. Letusan gunung lain di Kongo, Guatemala, Ekuador, Filipna dan Indonesia telah membuat banyak penduduk harus mencari tempat berlindung.

Sementara, New York dilanda tornado yang tak biasa.

Tidak ada cukup banyak salju untuk memulai Olimpiade Musim Dingin di Vancouver, British Columbia, sementara di Pantai Timur AS justru diselimuti salju.

Kondisi aneh dialami Indonesia. Dalam 24 jam di Bulan Oktober, tiga bencana dahsyat terjadi beruntun. Dimulai dari gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter di Mentawai, tsunami yang menewaskan lebih dari 500 orang dan letusan Gunung Merapi yang membuat 390 ribu orang harus mengungsi.